Jumat,
04 Januari 2013
Khutbah Jum'at: Syahadat Muhammad Rasulullah, Makna Dan
Konsekwensinya
Al-Qur'an Sunnah Dipublikasikan pada
24 May 2012 Hits: 761
إِنَّالْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ
خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ
خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jama’ah
Jum’at rahimakumullah
Setiap muslim pasti bersaksi, mengakui bahwa Muhammad adalah hamba dan
Rasulullah, tapi tidak semua muslim memahami hakikat yang benar dari makna
syahadat Muhammad Rasulullah, dan juga tidak semua muslim memahami tuntutan dan
konsekuensi dari syahadat tersebut. Fenomena inilah yang mendorong khatib untuk
menjelaskan makna yang benar dari syahadat Muhammad Rasulullah dan
konsekuensinya.
Makna dari syahadat Muhammad Rasulullah adalah pengakuan lahir batin dari seorang muslim bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusan Allah, Abdullah wa Rasuluhu yang diutus untuk
semua manusia sebagai penutup rasul-rasul sebelumnya.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Dari makna di atas bisa dipetik bahwa yang terpenting dari syahadat
Muhammad Rasulullah adalah dua hal yaitu: Bahwa Muhammad itu adalah abdullah
(hamba Allah) dan Muhammad itu rasulullah. Dua hal ini merupakan rukun
syahadat Muhammad Rasulullah.
“Katakanlah:
"Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku.” (Al Kahfi; 110).
Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: Dalam ayat di atas Allah
memerintahkan NabiNya untuk mengumumkan kepada manusia bahwa saya hanyalah
seorang hamba sama dengan kalian, bukan Rabb (Tuhan).
إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا
عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
“Saya
hanya seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya”. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh
Al-Utsaimin berkata: Saya hanyalah hamba yakni saya tidak punya hak dalam
rububiyah dan juga dalam hal-hal yang menjadi keistimewaan Allah.
Kaum
muslimin rahimakumullah
Keyakinan bahwa Muhammad adalah hamba Allah menuntut kepada kita untuk
mendudukkan beliau di tempat yang semestinya, tidak melebih-lebihkan beliau
dari derajat yang seharusnya sebab beliau hanyalah seorang hamba yang tidak
mungkin naik derajatnya menjadi Rabb.
Dari sini termasuk kesesatan jika ada yang ber-isti’anah, ber-istighatsah,
memohon kepada Nabi untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudharat sebab hal
itu adalah hak mutlak Allah sebagai Rabb.
"Katakanlah:
"Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun
kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan". (Al-Jin; 21).
Kemudian syahadat “Muhammad Rasulullah” menuntut kita untuk mengimani
risalah yang beliau sampaikan, beribadah dengan syariat yang beliau bawa, tidak
mendustakan, tidak menolak apa yang beliau ucapkan maupun yang beliau lakukan.
Jama'ah
Jum'at rahimakumullah
Seorang Muslim yang beriman bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah,
dituntut untuk mewujudkan beberapa hal sebagai bukti kebenaran keimanannya.
Hal hal yang wajib diwujudkan sebagai konsekuensi syahadat Muhammad
Rasulullah adalah:
1.
Membenarkan semua berita yang shahih dari Rasul Allah 'azzawajalla.
Muhammad adalah Rasulullah yang diistimewakan dari manusia lainnya
dengan wahyu, maka jika Beliau memberitakan berita masa lalu maupun berita masa
depan maka berita itu sumbernya adalah wahyu yang kebenarannya tidak boleh
ragukan lagi.
Di antara berita-berita dari Rasulullah yang wajib kita terima adalah:
Berita tentang tanda-tanda hari kiamat, seperti munculnya dajjal, turunnya Nabi
Isa, terbitnya matahari dari barat, berita tentang pertanyaan di alam kubur;
Adzab dan nikmat kubur, begitu juga berita tentang datangnya malaikat maut
dalam bentuk manusia kepada Nabi Musa untuk mencabut nyawanya lalu Nabi Musa
menamparnya hingga rusak salah satu matanya.
Semua berita di atas dan juga berita-berita lain yang berasal dari
hadits-hadits shahih, wajib kita percayai, jangan sekali-kali kita dustakan
dengan alasan berita itu bertentangan dengan akal sehat atau bertentangan
dengan zaman.
2.
Mentaati Rasulullah
Kaum
muslimin rahimakumullah
Seorang muslim wajib taat kepada Rasulullah sebagai perwujudan sikap
pengakuan terhadap kerasulan Beliau.
“Barangsiapa
yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. (Al-Nisaa’; 80)
Syaikh Abdur Rahman Nasir As Sa'dy berkata: setiap orang yang mentaati
Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam dalam perintah-perintah dan
larangan-larangannya dia telah mentaati Allah, sebab Rasulullah tidak
memerintahkan dan melarang kecuali dengan perintah, syariat dan wahyu yang
Allah turunkan.
Taat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam
mempunyai dua sisi:
1.
Taat dalam perintah dengan menjalankan semua perintahnya, di antara perintah
Beliau yang wajib kita taati adalah: Perintah mencelupkan lalat yang jatuh
dalam minuman atau makanan, mencuci tangan tiga kali sehabis bangun dari tidur,
mengucapkan Basmallah ketika makan, makan dan minum dengan tangan kanan, shalat
berjamaah dan lain-lain.
Sebagian orang menolak perintah Rasulullah Shallallaahu alaihi
wasallam dengan berbagai alasan, misalnya dia menolak perintah
menenggelamkan lalat dengan alasan hal itu menyalahi ilmu kesehatan, dan
perintah itu bersumber dari Rasul sebagai manusia biasa. Sikap ini adalah
godaan syaitan yang bermuara kepada penolakan terhadap sunnah Rasulullah
Shallallaahu alaihi wasallam .
Kaum
muslimin rahimakumullah
2. Sisi kedua dari mentaati Rasul
adalah menjauhi larangan Rasulullah, sebab yang dilarang Rasulullah juga
otomatis dilarang oleh Allah, di antara larangan tersebut: Larangan memakan
binatang buas yang bertaring, larangan makan atau minum dengan bejana emas atau
perak, larangan menikahi seorang wanita bersama saudara atau bibinya, larangan
memanjangkan kain (sarung atau celana) di bawah mata kaki, larangan melamar di
atas lamaran orang lain, larangan menjual atau membeli di atas penjualan atau
pembelian orang lain, dan larangan-larangan yang lain, semua wajib dijauhi.
Termasuk beberapa hal yang sudah diletakkan oleh Rasulullah sebagai
rukun, syarat dan batasan.
“Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka
jauhilah”. (Al-Hasyr: 7).
Jamaah
Jum'at rahimakumullah.
Konsekuensi yang ketiga: Berhukum kepada sunnah Rasul Allah.
Syahadat Muhammad Rasulullah yang benar akan membawa seorang Muslim
kepada kesiapan dan keikhlasan untuk menjadikan sunnah Rasulullah sebagai
rujukan, dia pasti menolak jika diajak untuk merujuk kepada akal, pendapat si
A/si B, hawa nafsu, maupun warisan nenek moyang dalam menetapkan suatu hukum,
lebih-lebih jika terjadi ikhtilaf (perbedaan), seorang Muslim yang
konsekwen dengan syahadatnya dengan lapang dada akan menjadikan sunnah
Rasulullah sebagai imamnya.
“Maka
demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim
dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan
dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya.” (An Nisaa';
65).
Syaikh As-Sa'dy berkata: Allah bersumpah dengan diriNya yang mulia bahwa
mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan RasulNya sebagai hakim dalam
masalah-masalah yang mereka perselisihkan. Lanjut beliau; Dan berhukum ini
belum dianggap cukup sehingga mereka menerima hukumnya dengan lapang dada,
ketenangan jiwa dan kepatuhan lahir batin.
Jamaah
Jum'at rahimakumullah
Haruslah diketahui bahwa sikap
penolakan terhadap hukum Rasulullah dalam masalah-masalah ikhtilaf adalah
termasuk sifat kaum munafikin.
“Apabila
dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah
telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang
munafik menghalangimu dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”. (An Nisaa'; 61)
Ibnu Abbas berkata: Hampir saja Allah menghujani kalian dengan batu dari
langit. Saya berkata: “Rasulullah telah bersabda begini, sedangkan kalian
berkata (tapi) Abu Bakar dan Umar berkata begitu”.
As-Syaikh Al-Utsaimin berkata: “Jika seseorang mengguna-kan ucapan Abu
Bakar dan Umar untuk menentang sabda Rasul bisa menyebabkan turunnya siksa;
hujan batu, maka apa dugaanmu dengan orang yang menentang sabda Rasul dengan
ucapan orang yang jauh di bawah derajat keduanya, tentu saja dia lebih berhak
mendapat siksa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar